Ini mewakili perasaanku padamu. Milikmu telah padam sepenuhnya bukan? Tapi milikku masih menyala-nyala. Bisakah perasaanku menularkan kobar itu kembali? Betapa aku ingin menyampaikan aku mencintaimu lagi?
Ini bukan puisi. Ini hanya gambaran angan-angan yang membumbung tinggi. Yang kemarin lalu terhempas pergi seperti putusnya layangan yang akhirnya aku temukan di dahan pepohonan. Tentu ia terkoyak, dan bagaimana mungkin aku meminta ia langsung membumbung tinggi kembali.
Aku berjanji tak menuliskan apapun padamu lagi. Tapi aku merindukanmu, apakah salah? Mengapa harus serindu ini? Mengapa sesedih ini aku menghadapi cintaku. Ya Allah, apa aku setaklayak itu untuk dicintai?
Aku tak ingin mengiba. Jika memang begini jalannya, aku akan berusaha.
Sayangku, Mr. Prasetyo, demi kamu aku rela seperti ini. Saat rindu itu menggebu, tapi aku lebih ingin kamu beristirahat dengan tenang. Saat aku ingin bercerita tapi aku lebih ingin kamu terlelap tidur.
Jika nanti kita sudah resmi bersama. Setiap pulang kerja aku harap kamu menemukan rumah ternyamanmu bersamaku. Aku janji aku ndak akan merengek. Kamu lelah, aku tau. Saat itu aku ingin memelukmu erat. Semoga ia meredakan penatmu. Itu saja. Bahkan meski kamu lebih memilih mendatangi alam mimpi, tak apa. Aku lebih senang demikian.