Selasa, 23 April 2024

Aku Tak Tau Apa yang Kutuliskan

 Ini mewakili perasaanku padamu. Milikmu telah padam sepenuhnya bukan? Tapi milikku masih menyala-nyala. Bisakah perasaanku menularkan kobar itu kembali? Betapa aku ingin menyampaikan aku mencintaimu lagi? 

Ini bukan puisi. Ini hanya gambaran angan-angan yang membumbung tinggi. Yang kemarin lalu terhempas pergi seperti putusnya layangan yang akhirnya aku temukan di dahan pepohonan. Tentu ia terkoyak, dan bagaimana mungkin aku meminta ia langsung membumbung tinggi kembali. 

Aku berjanji tak menuliskan apapun padamu lagi. Tapi aku merindukanmu, apakah salah? Mengapa harus serindu ini? Mengapa sesedih ini aku menghadapi cintaku. Ya Allah, apa aku setaklayak itu untuk dicintai? 

Aku tak ingin mengiba. Jika memang begini jalannya, aku akan berusaha. 

Sayangku, Mr. Prasetyo, demi kamu aku rela seperti ini. Saat rindu itu menggebu, tapi aku lebih ingin kamu beristirahat dengan tenang. Saat aku ingin bercerita tapi aku lebih ingin kamu terlelap tidur. 

Jika nanti kita sudah resmi bersama. Setiap pulang kerja aku harap kamu menemukan rumah ternyamanmu bersamaku. Aku janji aku ndak akan merengek. Kamu lelah, aku tau. Saat itu aku ingin memelukmu erat. Semoga ia meredakan penatmu. Itu saja. Bahkan meski kamu lebih memilih mendatangi alam mimpi, tak apa. Aku lebih senang demikian. 

Jumat, 05 April 2024

Pesan Cinta #2

 Biarkan dunia dengan kisah cinta mereka

Aku dengan kisah cinta bersamamu saja

Tak perlu ribut mencari pembenaran rasa pada mereka

Tenang yang kudapat darimu sudah memvalidasi segalanya


Tak perlu berkoar-koar seberapa besar dan tulusnya rasa ini

Kamu akan tau dengan sendirinya

Tanpa perlu menanyakan pada sesama makhluk

Cukup minta padaNya agar kita terus bersama


Tak perlu membuat dunia iri

Aku bahagia mengetahui kamu mencintaiku

Itu saja, tak perlu yang lain lagi


Kali ini aku ingin mencintaimu dalam diam

Meski sejatinya hatiku begitu lantang menyebut namamu

Biarkan kalimat-kalimat itu hilang arah kala ingin menceritakan kita

Karena sesungguhnya damaiku kala bersamamu telah merangkum segalanya


Sampai saat itu tiba

Dimana genggamanmu membuatku seolah mampu menggenggam dunia

Sampai saat itu tiba

Saat dimana langkahmu dan langkahku menjadi selaras

Saat detak berubah menjadi debar tak karuan

Bahwa akhirnya teka-teki terbesar perihal sesiapa 

Terjawab tuntas dibawah bimbinganNya

Dan disaksikan oleh semesta


Bolehkah aku mencintaimu sedalam ini? 

Bahkan meski aku belum pernah tenggelam

Dalam samudra kehidupan 

Yang ditampilkan dua manik netramu

Bolehkah, Sayang? 

Pesan Cinta #1

 Apakah kata rindu itu menjemukan? 

Sebab bagiku ia adalah candu

Yang bahkan jika kita telah bertemu

Ia mungkin malah kembali menyerbu

Dengan rasa yang lebih menggebu


Kuterima dirimu dengan penuh tuntutan

Jadilah imamku dengan penuh kesadaran

Karena dunia ini hanyalah fana

Sementara aku ingin kata selamanya

Menyatukan kita


Dan diantara tanda kasihNya yang tak berbatas

Sudikah kiranya jika engkau menjadi salah satunya

RahmatNya yang menuntunku kembali ke jalan yang Ia ridhoi

Anugerah yang akan membawa syukur tiada henti

Dalam lantunan Alhamdulillah yang terbias dari lakuku pula


Jadilah yang pertama dan terakhir

Yang mengetahui seluk beluk kurangku

Sisi-sisi kelam yang coba kututup rapat

Goresan-goresan luka yang sayatannya membekas lama

Jadilah alasanku sembuh

Jadilah alasanku kembali meyakini

Bahwa skenarioNya selalu lebih baik dari apa yang kurencana


Bolehkah sekiranya kuutarakan kembali

Bahwasanya aku mencintaimu

Dan mari menjemput hubungan yang suci

Yang di dalamnya mengalir beragam ketenangan

Serta ketentraman

Sampai saat itu tiba

Sampai pada akhirnya waktu membuktikan

Bahwa kamulah tempatku pulang

Dan sebaliknya


Maaf aku mencuri start terlebih dahulu

Aku mencintaimu Pramudya Adi Prasetyo

Aku Tak Tau Apa yang Kutuliskan

 Ini mewakili perasaanku padamu. Milikmu telah padam sepenuhnya bukan? Tapi milikku masih menyala-nyala. Bisakah perasaanku menularkan kobar...